Langsung ke konten utama

yaudahlah, percuma.

Rasa-rasanya aku sudah mulai terbiasa dengan rasa kecewa, tapi diusia yang makin dewasa memang sudah seharusnya begitu, bukan?

Masih di tempat yang sama, aku mulai menyadari sesuatu. Tak terlalu berkecamuk di hati, tapi cukup memberiku sentilan agar tak melulu terkecoh dengan kesuksesan atau kebahagiaan. Pula tak begitu larut dalam kesedihan. 

Hati orang tak mudah ditebak, aku pun begitu. 

Berekspetasi terlalu tinggi tentang masa depan hanya membuat khayalan semu di benak kita. Sebagai manusia kita hanya diwajibkan mencoba dan berusaha, tapi bullshit juga kalau bilang, "kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda" kata - kata itu tak menghiburku sama sekali. Justru kata - kata itu biang masalah. Orang yang gagal akan semakin berambisi untuk bisa membuktikan ke dunia bahwa dirinya bisa mencapai sukses. Ambisi memang baik, tapi ingat ambisi juga melelahkan. 

Kata sukses menjadi sangat subjektif bagi beberapa kalangan orang. Mungkin didikan orang tua dari kecil berperan besar dalam pendefinisian kata sukses itu sendiri. Ada yang bertipikal asuhan santai, tidak ada tekanan untuk harus selalu ranking satu, kalau ikut lomba lalu menang ya alhamdulillah, kalau kalah yasudah yang penting anak tetap sehat. Ada juga pola asuh yang sangat mengupayakan kemenangan anaknya pada berbagai kompetisi. Kedua pola asuh itu tidak salah, semua benar jika orang tua tau bagaimana membaca psikologis manusia. Jika anak memang tampak tidak bisa tertekan maka pakailah pola asuh santai. Sebagai orang tua pun rasanya sangat egois jika selalu menuntut anak melakukan ini dan itu dan jangan khawatir anak tidak akan berkembang karena tiap anak akan menemukan warnanya masing-masing.

Banyak orang mendefinisikan sukses itu kaya raya, bisa beli barang branded tanpa liat price tag, bisa keliling dunia, bahkan tak jarang orang mematok jabatan sebagai ukuran kesuksesan. hal itu wajar, banyak orang mendambakan hidup enak dan mewah. 

Pun ada orang yang mendefinisikan sukses itu bisa membeli mie ayam setelah pulang kerja, mengumpulkan tugas tepat waktu, memberi tutor kepada teman, bisa tahan makan mie instan selama satu bulan, itu semua tergantung cara memandang suatu hal. Ada orang yang memang perlu target, juga ada orang yang lebih asik dengan pencapaian-pencapaian kecil di keseharian. 

Tak perlu menghakimi, tapi memang begini, ada kalanya kita manusia luput. Sok merasa paling benar tapi selalu lupa kalau masih ada langit di atas langit. Itulah fungsinya mengapa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, kalau kita salah harus ada yang mengingatkan. ya kan?

Hidup tak perlu bersadiwara, being genuine is the best feeling in the world :)

intinya,

yaudah, gak usah disesali, percuma! Mari kita dewasa dengan cara yang baik! 


Halo, teman onlineku! How's life? Selamat datang di blog sederhana saya. Blog ini mungkin sangat random dan tak terarah. But, at least, I am being me. an INFP-T girl who want to knows every little thing which seems mysterious. Layaknya hidup. Hidup adalah perjalanan panjang. Sebagian mungkin terlahir dengan keberuntungan, seperempat lainnya menjadi manusia murka karena ditakdirkan untuk mengubah rencana yang telah mereka buat, dan sisanya hanyalah para penikmat alur kehidupan dengan menulis dan minum kopi. Salam damai, ZHOAF SHARAH

Komentar