“Selanjutnya, nomor urut 4 memperkenalkan diri”
Tepat setelah
kalimat itu keluar dari Bu Siti aku berdiri lalu maju di hadapan teman -teman
baruku. Seperti biasa, aku paling tidak bisa mendeskripsikan diriku sendiri,
normal – normal saja, bahkan cenderung membosankan. Isi perkenalanku hanya
menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal sekolah, bahkan untuk memikirkan
apa hobiku saja sudah tidak sanggup lagi.
Kata orang aku
introvert. Aku menyadari sepenuhnya bahwa dari dulu aku suka sekali
menghabiskan waktu di dalam rumah. Entah, aku harus bersyukur atau malah
menyesal. Hari demi hari kulalui dengan rebahan, memanjakan diri, makan, dan
nonton film. Pengalaman cinta? Hmm tolong, satu saja aku tidak pernah. Nikung
gebetan teman? Punya teman yang bisa nyambung saja nihil!
Sampai suatu
saat aku dipaksa oleh keadaan untuk mengalahkan keegoisanku ini. Bu Siti,
Kepala Sekolah paling eksentrik se – Kota Cimahi, sengaja menyusun strategi
pamungkas untuk menjadikanku koordinator utama acara persembahan dari murid
baru di sekolahku. Entah apa tujuannya. Otomatis, aku sangat dongkol dengan
keputusan Bu Siti.
“Bima, tugas
pertama kamu sebagai koordinator yaitu membuat struktur kepanitiaan. Saya beri
batas waktu 5 hari lagi.”
“Eh? Saya, Bu?”, tanyaku terbelalak.
“Ibu melihat kamu
berkharisma sebagai pemimpin Bim, feeling saya tidak pernah salah.”
Seringai senyum
tipis di akhir perkataan Bu Siti membuat perutku mules, rasa takut berlebihan
memenuhi seluruh tubuhku. Pertanda apa ini ya Tuhan.
“Eh kak.. maaf
kak, maaf....”, kataku sambil berlarian mencari WC terdekat.
Salah satu
kelegaan yang haqiqi dan menyenangkan yaitu perasaan setelah buang air besar.
Tapi kurasa tidak untuk kali ini. Ada kejadian janggal saat aku hendak bersiap
keluar dari WC.
“Kampret! Salah
masuk WC..”
Saat aku buka
gagang pintu dan bersiap untuk lari, ada suara tangisan perempuan. Aku mencoba
bersikap tenang. Aku bingung itu manusia apa setan. Tangisannya, terdengar tidak
lirih dan tidak menyeramkan, namun dibarengi teriakan dan umpatan.
“Kalo itu setan
kayaknya gak mungkin. Sial banget hari ini, Ck!”, batinku
Terpaksa aku
harus menunggu perempuan itu selesai telfonan.
“Hmm dah sejam
aja di sini, ga ada sinyal pula, lengkap lah!”
Entah apa yang
direncanakan Tuhan padaku hari itu. Aku mengalami beberapa kesialan beruntun di
hari pertama sekolah. Aku keluar dari WC dengan kaki yang kesemutan, badan
lemas, dan mata yang sudah ngantuk sekali.
“Haduh, emang
paling hebat lah hari ini..”, gerutuku.
Sepersekian
detik setelah aku keluar dari WC aku menemukan kesialanku lagi. Gedebuk!!!
“Aduuuhh!” aku
menjerit keras, dahiku menatap keras ubin. Aku terpeleset karena genangan air
pel. Kesialan ultimateku hari ini yaitu celanaku robek! Dan superultimatenya
lagi, dibelakangku ada segerombolan geng hits di sekolah yang menertawaiku! Dan
megaultimatenya lagi, dia mengupload kejadian memalukan ini di media sosialnya!
Seisi sekolah sekarang mengenaliku. Mereka menyebutku si spongebob. Orang culun
aneh yang selalu melakukan tindakan bodoh, itu kata mereka.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari pertama
masuk sekolah, sangat membuatku depresi. Aku menangis seharian di kamar, tidak
mau makan, tidak mau berbicara. Hanya menangis dan ingin kabur rasanya dari
dunia ini.
“Aku mau pindah
sekolah! Malas sekali dengan orang orang yang kurang ajar! Punya hak apa dia? Dia
gak kenal aku, tapi sikapnya udah macam paling oke aja! Terus aku mau ucapin
terimakasih banyak sama kepsek atas penunjukan sepihaknya! Luar biasa bijak.”,
teriakku kepada Mama dari dalam kamar.
Mama menghela
nafas panjang, usahanya untuk mengubahku malah berujung seperti ini. Ternyata kejadian
penunjukkanku sebagai koordinator utama bukan tanpa alasan. Bu Siti adalah
kawan baik nenekku. Dari lubuk yang paling dalam mama khawatir dengan
kepribadianku yang seperti ini.
“Bu Siti, saya
boleh minta bantuan lagi? Saya sayang sama Bima, saya ingin menjadikan dia
orang yang besar, dia cerdas dan banyak keahliannya. Tapi dia terlalu menutup
diri, dia bahkan tidak punya teman sama sekali.”
“Kok bisa gitu
Bu?”, Bu Siti penasaran
“Dia kurang
pandai bersosialisasi Bu, karena dia lebih senang menghabiskan waktu sendiri.”
“Oh begitu
rupanya..”
“Tapi maaf Bu, Bima
sepertinya sangat marah dan tidak mau jadi koordinator, sepertinya juga dia
izin cuti sekolah dulu bulan ini, Bu”
“Urusan itu gak
usah dipikir nak, lepaskanlah dia, biar dia yang menyembuhkan dirinya sendiri.
Itu akan lebih kekal.”, kata Bu Siti kepada Mama
Semesta telah
mengiyakan kong kalikong antara Mama dan Bu Siti, bahkan semesta menemukan cara
yang lebih mujarab agar aku tak melupakan titik balikku ini. Mengetahui alasan
dibalik ini, inilah waktu yang tepat untuk menyembuhkan diriku sendiri,
berusaha memaafkan orang orang yang tak kusukai, berusaha memahami cara kerja
hidup di dunia.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa hari
aku mengurung diri dalam kamar. Aku mulai merasa bosan dengan hidup yang gini
gini aja. Aku mulai berfikir hidup tak melulu dibatasi dalam sekotak kubus
beton. Lalu kuputuskan untuk keluar. Pergi untuk mencari yang hilang, menemukan
apa yang seharusnya untukku. Ku buka aplikasi traveloka mencari tiket ke suatu
daerah yang tak kukenali, ke daerah yang tidak ada sanak saudara, tempat yang
asing bagiku.
Kuputuskan untuk
pergi ke tanah Sumatera. Sengaja aku naik travel, agar bisa ngobrol lebih
banyak dengan orang-orang.
“Mas geser dikit
boleh? Anak saya mau tidur selonjoran”, ucap seorang wanita berjilbab ungu
“Oh iya bu.”
“Maaf ya dek
kalo ngerasa keganggu, anak saya ini autis, beda sama kamu. Yang ganteng dan
gagah. Jadi jangan risih ya.”, ucap wanita tadi. Aku mengangguk sambil
tersenyum agar terlihat ramah.
“Kok barangnya
banyak banget dek? Mau kemana?”, sambil melihat tumpukan tas di sampingku.
“Gatau bu.”
“Loh kamu dari
mana?”
“Saya dari Jawa
bu.”
“Mau ketemu
siapa dek?”
“Ga ada yang mau
ditemuin Bu”
“Mau cari kerja
dek?”
“Enggak Bu, saya
masih SMA”
“Oh jadi ini
liburan ya?”
“Enggak juga Bu,
saya kabur”
“Saya heran kok
ada orang datang jauh jauh dari Jawa ke Sumatera tapi tidak punya tujuan, mau
kabur pula.”
“Gapapa bu, saya
juga bingung mau kemana.”
“Kalau saya
nawarin ikut sama saya aneh sekali rasanya, karena kita baru ngobrol sesingkat
itu.”
“Saya ikut
dengan ibu saja.”
“Wahh! Beneran??
Baiklah, apa pun tujuanmu di tanah ini. Semoga kamu segera menemukannya. Semoga
salah satunya ada di tempat saya.”
Memang benar
adanya, ucapan adalah doa. Seperti anak panah yang melesat tepat di titik
sasaran. Kalimat terakhir wanita tadi membuatku terhenyak beberapa detik,
berfikir, apakah benar apa yang kucari ada di tempat wanita tadi? Dalam diam,
aku mengamini. Lirih.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebenarnya aku
tidak yakin akan keputusan ini. Perkatakaanku tadi adalah kebimbangan pertama
yang terjadi di hidupku.
Dua puluh lima
kilometer setelah obrolan itu aku turun di depan sebuah rumah. Rumah yang cukup
luas dan teduh. Ternyata setelah aku masuk, rumah itu adalah rumah keluarga
besar Bu Ainun, wanita berjilbab ungu tadi. Rumah itu sangat luas, dan memiliki
ruang kamar yang luas juga. Ada 4 generasi yang tinggal dalam rumah itu. Aku
serasa menghadiri acara arisan keluarga. Suasana rumah sangat hangat dan ceria.
Meskipun di situ aku orang yang benar – benar asing tapi aku dijamu dengan
baik, bak keluarga jauh yang datang.
Hari kedua menginap,
aku diajak pergi ke pasar. Aku pergi dengan anak perempuan Bu Ainun. Dia
menjual pempek, makanan khas Kota ini. Dia bekerja hanya pada saat hari libur
sekolah, sebagai uang jajan tambahan katanya. Aku berbincang dengannya selagi
tidak ada pembeli. Percakapan sederhana dengan gadis berusia lebih muda 3 tahun
dariku. Perkatannya membuatku tersadar dan melahirkan satu untai benang di
hatiku yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
“Kakak bisa
kesini mau cari siapa?”, dia bertanya berusaha mencairkan suasana yang kikuk
diantara kami.
“Gatau”, jawabku
dengan wajah datar.
“Hahahahaha”
“Kok ketawa?”,
dahiku mengernyit
“Ada orang
sepolos kakak, seperti layang-layang yang benangnya putus!”
“Sebenernya saya
pergi untuk mencari sesuatu.”
“Siapa?”
“Pertanyaannya
bukan siapa, tapi apa... Saya sedang mencari jati diri saya”
“Kenapa harus
jauh-jauh? Menghabiskan uang saja. Kayaknya kakak hidupnya sudah enak, kenapa
harus dipersulit lagi? Kasian orang tua kakak di Jawa. Pasti mereka tersiksa
karena rindu.”
“Aku gak pernah
merasakan rindu.”
“Kakak harus
mencintai dulu.”
“Emang cinta itu
apa?”
“Cinta itu
perasaan yang membuat kita jadi bertindak tidak sesuai dengan akal.”
“Lalu kalau
dihidup kita tidak ada cinta? Kita mati gak?”
“Enggak mati,
tapi hambar.”
“Hidup hambar
tidak masalah toh?”
“Ish aku sih
gamau, hidupku gamau cuma sekadar hitam dan putih, aku ingin hidupku ada warna
pink, kuning, merah, hijau, orenn, dan lainnya..”
“Hmmm.. kalau
katamu gitu, aku menyimpulkan berarti orang tuaku ga punya akal dong.”
“Ishh bukan
gitu.. Kakak banyak nanya! Udah jalanin dulu aja, jangan ditahan- tahan apa
yang harus diluapkan, baru ngoceh.”
“Sepertinya kamu
harus mengajari aku banyak hal lagi tentang hidup.”
“Kak hidupku tu
serba kekurangan, aku harus selalu kesusahan dahulu, harus mendapat masalah
dulu baru dapat apa yang aku butuhkan. Aku bersyukur dilahirkan di keluarga
yang hangat. Kalau kata keluargaku, hidup itu harus seimbang antara masalah dan
kebahagiaan. Kakak harus dapat masalah dulu, nanti jiwa kakak akan tumbuh
dengan sendirinya. Trust me.”, dia menjawab dengan diakhiri tepukan tangannya
di punggungku berusaha meyakinkanku.
“Hidupku biasa
saja, aku cuma suka di rumah saja, tanpa bergaul dengan siapa pun.”
“Kakak bahagia?”,
tanyanya dengan wajah penasaran.
“Biasa saja.”
“Kakak kesepian
kan?”
“Aku gak tahu,
tolong ajari aku Win.” Aku berusaha melontarkan humor yang aku amati dari
orang-orang di media sosial.
Obrolanku harus
berhenti sejenak karena ada pembeli yang memesan pempek yang lumayan banyak.
Dalam perjalanan
pulang dari pasar, aku merasa berada dalam titik puncak pencarianku selama ini.
Saat itu suasana Palembang mendung, perjalanan terasa sendu, orang orang di sekitar
pasar berlarian melindungi diri agar tidak terkena rintik hujan yang akan
segera membasahi bumi. Tapi aku malah mematung di tengah orang yang sedang
berlalu lalang. Hatiku berdegup kencang saat Wina menatapku sambil tersenyum
manis kepadaku. Kata orang, dia terlihat biasa saja. Tapi entah mengapa saat
detik itu, mataku menyorot pas di mata lentiknya, senyumnya merekah lalu dia
berkata. “Ayo, sini kak! Cepat! keburu hujan!”
Indah sekali
rasanya jatuh cinta kepada pandangan pertama. Mungkin benar semesta sedang
mempermainkanku. Aku dibawa kabur lalu digiringnya hingga ke pulau seberang.
Berusaha menghibur diri, berusaha memperbaiki apa yang salah dengan diriku,
berusaha menemukan apa yang kurang, lalu disatukan menjadi sebuah jalinan jati
diriku yang sesungguhnya.
“Win. Kamu mau
temani aku?”, teriakku
“Ke mana?”, dia
juga membalas berteriak dari ruko seberang jalan
“Aku dalam
proses untuk menjadi kupu-kupu. Kamu mau temani aku?”, aku berlarian menuju ke
tempatnya berdiri agar tidak saling berteriak.
“Kak, apasih.
Aku gak paham.”, katanya.
“Hatiku Win,
berdesir.”
Wina tersipu
malu, pipinya memerah. Akhirnya dia paham tanpa perlu kujelaskan secara panjang
lebar. Kami masih terlalu muda. Tapi kami juga tidak sanggup untuk membohongi
perasaan.
Semenjak
berkelana, aku terus berfikir, mengapa dulu aku begitu malas bergaul, tidak
punya teman, menutup diri, dan hanya melakukan itu itu saja. Aku tersadar. Aku terlalu
takut untuk memulai dan terlalu memikirkan segala kemungkinan yang belum tentu
terjadi. Dont force things, dont expect things, let if flow.
“Kita jalani
dulu aja.”
END.
Komentar
Posting Komentar